Sunday, August 15, 2010

Shaum Alfin

Nggak terasa sudah hari ke-5 puasa...hampir seminggu masuk ke bulan Ramadhan ...

Alhamdulillah, Abang Daffa sudah penuh puasanya, meski mengaku nyaris lupa minum di hari pertama berpuasa. Alfin masih puasa setengah hari, tapi..... Persis di hari ke-3, kita dapat surprise... Karena Alfin berhasil menamatkan puasanya Poll alias full. Dengan demikian rekor Abang dikalahkan Alfin (ini istilahnya Abang lohhh)...

Untuk kesuksesannya, Alfin dihadiahi minuman kesukaannya (yang sebenernya) coca cola, tapi dialihkan jadi minum pulpy orange aja ... Asyikkkk mamanya juga kebagean dibeliian minuman juga...makasih ya Papa.... Kalo dari Mama hadiahnya pesta pizza take away rame-rame hehehe....

Menginjak hari ke-4 Alfin puasa lagi...kali ini diberi hadiah masakan kesukaan Alfin...apalagi kalo bukan ayam goreng hehehe... Jadinya kita have a little party di rumah Ibu.....

Tantangan Alfin berpuasa cuman karena Alfin lebih rewel dan cengeng aja hehehe... Mungkin karena lapar kali yaaa...

Hari ini hari ke-5 Alfin puasa.... Semoga aja full ya Nak !!! ...dan gak nangis-nangis lagi....biar energi-nya gak abis hehehe...

Saturday, August 07, 2010

Sby Trip | Siapa Sunan Ampel ?

mengutip dari sini....

Prabu Sri Kertawijaya tak kuasa memendam gundah. Raja Majapahit itu risau memikirkan pekerti warganya yang bubrah tanpa arah. Sepeninggal Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, kejayaan Majapahit tinggal cerita pahit. Perang saudara berkecamuk di mana-mana. Panggung judi, main perempuan, dan mabuk-mabukan menjadi ”kesibukan” harian kaum bangsawan –pun rakyat kebanyakan.

Melihat beban berat suaminya, Ratu Darawati merasa wajib urun rembuk. ”Saya punya keponakan yang ahli mendidik kemerosotan budi pekerti,” kata permaisuri yang juga putri Raja Campa itu. ”Namanya Sayyid Ali Rahmatullah, putra Kakanda Dewi Candrawulan,” Darawati menambahkan. Tanpa berpikir panjang, Kertawijaya mengirim utusan, menjemput Ali Rahmatullah ke Campa –kini wilayah Kamboja.
Ali Rahmatullah inilah yang kelak lebih dikenal sebagai Sunan Ampel. Cucu Raja Campa itu adalah putra kedua pasangan Syekh Ibrahim Asmarakandi dan Dewi Candrawulan. Ayahnya, Syekh Ibrahim, adalah seorang ulama asal Samarkand, Asia Tengah. Kawasan ini melahirkan beberapa ulama besar, antara lain perawi hadis Imam Bukhari.

Ibrahim berhasil mengislamkan Raja Campa. Ia kemudian diangkat sebagai menantu. Sejumlah sumber sejarah mencatat silsilah Ibrahim dan Rahmatullah, yang sampai pada Nabi Muhammad lewat jalur Imam Husein bin Ali. Tarikh Auliya karya KH Bisri Mustofa mencantumkan nama Rahmatullah sebagai keturunan Nabi ke-23.
Ia diperkirakan lahir pada 1420, karena ketika berada di Palembang, pada 1440, sebuah sumber sejarah menyebutnya berusia 20 tahun. Soalnya, para sejarawan lebih banyak mendiskusikan tahun kedatangan Rahmatullah di Pulau Jawa. Petualang Portugis, Tome Pires, menduga kedatangan itu pada 1443.
Hikayat Hasanuddin memperkirakannya pada sebelum 1446 –tahun kejatuhan Campa ke tangan Vietnam. De Hollander menulis, sebelum ke Jawa, Rahmatullah memperkenalkan Islam kepada Raja Palembang, Arya Damar, pada 1440. Perkiraan Tome Pires menjadi bertambah kuat. Dalam lawatan ke Jawa, Rahmatullah didampingi ayahnya, kakaknya (Sayid Ali Murtadho), dan sahabatnya (Abu Hurairah).
Rombongan mendarat di kota bandar Tuban, tempat mereka berdakwah beberapa lama, sampai Syekh Asmarakandi wafat. Makamnya kini masih terpelihara di Desa Gesikharjo, Palang, Tuban. Sisa rombongan melanjutkan perjalanan ke Trowulan, ibu kota Majapahit, menghadap Kertawijaya. Di sana, Rahmatullah menyanggupi permintaan raja untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit.
Sebagai hadiah, ia diberi tanah di Ampeldenta, Surabaya. Sejumlah 300 keluarga diserahkan untuk dididik dan mendirikan permukiman di Ampel. Meski raja menolak masuk Islam, Rahmatullah diberi kebebasan mengajarkan Islam pada warga Majapahit, asal tanpa paksaan. Selama tinggal di Majapahit, Rahmatullah dinikahkan dengan Nyai Ageng Manila, putri Tumenggung Arya Teja, Bupati Tuban.
Sejak itu, gelar pangeran dan raden melekat di depan namanya. Raden Rahmat diperlakukan sebagai keluarga keraton Majapahit. Ia pun makin disegani masyarakat. Pada hari yang ditentukan, berangkatlah rombongan Raden Rahmat ke Ampel. Dari Trowulan, melewati Desa Krian, Wonokromo, berlanjut ke Desa Kembang Kuning. Di sepanjang perjalanan, Raden Rahmat terus melakukan dakwah.
Ia membagi-bagikan kipas yang terbuat dari akar tumbuhan kepada penduduk. Mereka cukup mengimbali kipas itu dengan mengucapkan syahadat. Pengikutnya pun bertambah banyak. Sebelum tiba di Ampel, Raden Rahmat membangun langgar (musala) sederhana di Kembang Kuning, delapan kilometer dari Ampel.
Langgar ini kemudian menjadi besar, megah, dan bertahan sampai sekarang –dan diberi nama Masjid Rahmat. Setibanya di Ampel, langkah pertama Raden Rahmat adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah. Kemudian ia membangun pesantren, mengikuti model Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Format pesantrennya mirip konsep biara yang sudah dikenal masyarakat Jawa.
Raden Rahmat memang dikenal memiliki kepekaan adaptasi. Caranya menanamkan akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Kata ”salat” diganti dengan ”sembahyang” (asalnya: sembah dan hyang). Tempat ibadah tidak dinamai musala, tapi ”langgar”, mirip kata sanggar. Penuntut ilmu disebut santri, berasal dari shastri –orang yang tahu buku suci agama Hindu.
Siapa pun, bangsawan atau rakyat jelata, bisa nyantri pada Raden Rahmat. Meski menganut mazhab Hanafi, Raden Rahmat sangat toleran pada penganut mazhab lain. Santrinya dibebaskan ikut mazhab apa saja. Dengan cara pandang netral itu, pendidikan di Ampel mendapat simpati kalangan luas. Dari sinilah sebutan ”Sunan Ampel” mulai populer.
Ajarannya yang terkenal adalah falsafah ”Moh Limo”. Artinya: tidak melakukan lima hal tercela. Yakni moh main (tidak mau judi), moh ngombe (tidak mau mabuk), moh maling (tidak mau mencuri), moh madat (tidak mau mengisap candu), dan moh madon (tidak mau berzina). Falsafah ini sejalan dengan problem kemerosotan moral warga yang dikeluhkan Sri Kertawijaya.
Sunan Ampel sangat memperhatikan kaderisasi. Buktinya, dari sekian putra dan santrinya, ada yang kemudian menjadi tokoh Islam terkemuka. Dari perkawinannya dengan Nyai Ageng Manila, menurut satu versi, Sunan Ampel dikaruniai enam anak. Dua di antaranya juga menjadi wali, yaitu Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) dan Sunan Drajat (Raden Qosim).
Seorang putrinya, Asyikah, ia nikahkan dengan muridnya, Raden Patah, yang kelak menjadi sultan pertama Demak. Dua putrinya dari istri yang lain, Nyai Karimah, ia nikahkan dengan dua muridnya yang juga wali. Yakni Dewi Murtasiah, diperistri Sunan Giri, dan Dewi Mursimah, yang dinikahkan dengan Sunan Kalijaga.
Sunan Ampel biasa berbeda pendapat dengan putra dan murid-mantunya yang juga para wali. Dalam hal menyikapi adat, Sunan Ampel lebih puritan ketimbang Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga pernah menawarkan untuk mengislamkan adat sesaji, selamatan, wayang, dan gamelan. Sunan Ampel menolak halus.
”Apakah tidak khawatir kelak adat itu akan dianggap berasal dari Islam?” kata Sunan Ampel. ”Nanti bisa bidah, dan Islam tak murni lagi.” Pandangan Sunan Ampel didukung Sunan Giri dan Sunan Drajat. Sementara Sunan Kudus dan Sunan Bonang menyetujui Sunan Kalijaga. Sunan Kudus membuat dua kategori: adat yang bisa dimasuki Islam, dan yang sama sekali tidak.
Ini mirip dengan perdebatan dalam ushul fiqih: apakah adat bisa dijadikan sumber hukum Islam atau tidak. Meski demikian, perbedaan itu tidak mengganggu silaturahmi antarpara wali. Sunan Ampel memang dikenal bijak mengelola perbedaan pendapat. Karena itu, sepeninggal Maulana Malik Ibrahim, ia diangkat menjadi sesepuh Wali Songo dan mufti (juru fatwa) se-tanah Jawa.
Menurut satu versi, Sunan Ampel-lah yang memprakarsai pembentukan Dewan Wali Songo, sebagai strategi menyelamatkan dakwah Islam di tengah kemelut politik Majapahit. Namun, mengenai tanggal wafatnya, tak ada bukti sejarah yang pasti. Sumber-sumber tradisional memberi titimangsa yang berbeda.
Babad Gresik menyebutkan tahun 1481, dengan candrasengkala ”Ngulama Ampel Seda Masjid”. Cerita tutur menyebutkan, beliau wafat saat sujud di masjid. Serat Kanda edisi Brandes menyatakan tahun 1406. Sumber lain menunjuk tahun 1478, setahun setelah berdirinya Masjid Demak. Ia dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, di areal seluas 1.000 meter persegi, bersama ratusan santrinya.

Kompleks makam tersebut dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam Sunan Ampel bersama istri dan lima kerabatnya dipagari baja tahan karat setinggi 1,5 meter, melingkar seluas 64 meter persegi. Khusus makam Sunan Ampel dikelilingi pasir putih. Setiap hari, penziarah ke makam Sunan Ampel rata-rata 1.000 orang, dari berbagai pelosok Tanah Air.

Jumlahnya bertambah pada acara ritual tertentu, seperti saat Haul Agung Sunan Ampel ke-552, awal November lalu. Pengunjungnya membludak sampai 10.000 orang. Kalau makam Maulana Malik Ibrahim sepi penziarah di bulan Ramadhan, makam Sunan Ampel justru makin ramai 24 jam pada bulan puasa.

Tuesday, July 27, 2010

Telisik Batu Karas dan Gren Canyon

| Telisik Jawa Tengah 20-26 Desember 2009 |

Batu Karas, Batu Hiu, Gren Canyon, dan alur Pantai Selatan
(Rabu-Kamis, 24-26 Desember 2009)

Seumur-umur yang namanya ke Pangandaran, nggak pernah liatin Gren Canyon alias Green Canyon yang terkenal itu..padahal ngakunya urang Ciamis, kelahiran Ciamis, tapi gak tahu apa-apa... so perjalanan ngiterin (sedikit) Pulau Jawa bagian Tengah ini akan diakhiri di Pangandaran.
Semestinya, kita mampir dulu di Baturaden, tapi karena kondisi Abang yang takutnya jadi parah, akhirnya kita extend di Yogya dan menghapuskan Baturaden dan Cilacap dari list (duh Kang Arie....maaf yaaaa kelewat lagiii hehe..)
Sayangnya baru tahu kalau dari Cilacap ada jalan pintas yang tembus ke Pangandaran dari Papa-nya Bang Reihan pas udah sampai di Jakarta ... akibatnya jalan melambung euyyy... 3 jam perjalanan dari perbatasan Jawa sampai Batu Karas...capek yaaaa....

perjalanan lumayan panjang yaaa... pantes kalo mudik ke Ciamis pasti males kalo mau jalan ke Banjar ya begini ini..jaooohhh...untung aja jalannya bagus dan mulus. pendek kata, pantai yang kita temuin pertama pantai pangandaran, pantai wisatanya, terus lewat pantai Batu Hiu...karena takut kesorean, kita nggak mampir-mampir dulu tapi straight ahead ke Batu Karas.

sempet liat hijaunya alur sungai menuju Green Canyon alias Gren Canyon....besoknya aliran ini berubah jadi cokelat akibat hujan semalaman :-(


Java Cove, the only representative hotel in Batukaras

sampe di Batu Karas akhirnya ...alhamdulillah...check in di Java Cove, butik hotel yang dimiliki sama bule, even yang jadi resepsionis-nya aja bule..jadi bingung..ini teh di ciamis atow di honolulu hihihi...




Hotelnya bagus..terbagus di daerah ini malah...mangkanya kalo nggak booking jauh-jauh hari ...bisa nggak kebagian kamar, karena deket ke Natal, jadinya hanya boleh renting sistem paket 3 hari 2 malam, terpaksa diambil ajah...


 

Hotel ini punya konsep bersatu dengan penduduk sekitar, so... kalau di luar makan pagi, fully recommended untuk makan di sekitar hotel aja di warung-warung punya penduduk..ditanggung harga murah, nggak digetok, eh rasanya lumayan enak pula...



pasir Pantai Batu Karas sebenarnya berwarna hitam, yang membikin pantai ini begitu istimewa adalah banyaknya surfers baik yang amatir maupun pro... kita nggak usah memicingkan mata melihat mereka ini beraksi karena, dari pinggir pantai saja udah keliatan..jadi maen surfingnya nggak harus sampai ke tengah.

kalau berharap view..coba berkunjung ke Pangandaran yang pastinya penuh dengan pendatang...atau Batu Hiu yang ombaknya besar dengan view tak berbatas ....
 
Bapak - anak


tuh dia batu..nya.....

unlimited horizon
dari Batu Hiu, terusan ke Gren Canyon... sayangnya dasar sungai yang mestinya terlihat hijau nggak keliatan kali ini karena hujan mengguyur semaleman..so..... karena tanggung tetep kita teruskan untuk ke lokasi gua-nya yang masih terlihat hijau..kalau aja nggak kesorean, Abang sama papa mau berenang tuh di gua-nya...hehehe...

menunggu perahu

kayuh terussss

sehabis berperahu, balik ke Hotel, ready to pack, mengingat besoknya kita balik ke Jakarta..

Waktunya Pulang lewat alur Pantai Selatan

ini first try, so dari Batu Karas, kita nggak balik ke jalan Banjar tapi diterusin sampai keluar di tasik, bahkan kalo diterusin lagi bisa sampai Sancang dan Pameungpeuk segala tuh..tapi nanti aja dech.. udah saatnya balik ke Jakarta nich...

BTW view-nya keren banget ternyata dari pantai, ketemu sawah, ketemu sungai, ketemu jembatan... udah gitu ketemu keriaan drumband dlsb..meriah banget .... hehehe...











alhamdulillah, nyampe juga ke Jakarta dengan selamat.....padahal waktu pergi Alfin udah dalam keadaan sakit, ealah di perjalanan si Abang yang akit...pas nyampe rumah, semuanya sehat alhamdulillah...OK...be prepare for the next trip guy !!!!

Monday, July 12, 2010

First Day at School


Nggak kerasa, baru 4 tahun yang lalu nganter Abang sekolah, now bagiannya Alfin...

Melihat punggungnya dengan baju baru dan tas hadiah TK, melangkah masuk ke halaman sekolah "jung geura indit anaking, diajar sing bener, sing bisa jadi jalma bageur"



*si bibi lagi pulkam, Papa lagi keluar kota, lengkap banget kesibukan hari ini..
sempet-sempetnya dorong motor yang keabisan bensin ...complete dech pokoknya...

*wali kelas si Abang bu Nurmala (lagi) nich hehehe..

Sby Trip | Madura, Syeh Cholil dan Batik

Minggu, 11 Juli 2010

Hari ini relax dot com... Nggak seperti hari-hari yang lain ... Jadwal kita hanya ke Madura abis itu cabut ke Jakarta.

Makan pagi nasi pecel khas orang Jawa Timur-an ...alhamdulillah gratis hehe...secara udah balik ke basecamp di Surabaya...wahhh seminggu libur di Surabaya kayaknya bakalan jadi ndutsssss banget, makanannya uenak uenak soalnya..

 
Beres mandi, makan dan packing, kita bersiap menuju Madura...alhamdulillah... Transportasi ada tambahan lagi...wadoh beneran nich ngerepotin Papa dan Mama-nya Kak Nunki...makasih yaaa...
Jarak rumah Kak Nunki ke Lokasi Jembatan penyebrangan Suramadu deket banget.. Gak sampe 20 menit, sudah ada di awal jembatan...


Jembatan Suramadu
Konstruksi Jembatan yang konon bautnya sering dicuri ini (joke doang kali ya ??) masih punya pesona tersendiri... sangat mengagumkan, sayang gak boleh berhenti di tengah jalan untuk menikmati view yang ada, kalo ada yang nekat siap ditilang dech .... 

Seperti yang dikutip dari sini... kemudian dari sini ....Jembatan Suramadu pada saat ini tercatat sebagai jembatan terpanjang di Indonesia sejauh 5.438 km.

Pembangunan jembatan ini ditujukan untuk mempercepat pembangunan di Pulau Madura, meliputi bidang infrastruktur dan ekonomi di Madura, yang relatif tertinggal dibandingkan kawasan lain di Jawa Timur. Perkiraan biaya pembangunan jembatan ini adalah 4,5 triliun rupiah.
View-nya makin asik kalau pas malam hari, tiang-tiang yang ada di main bridge disorot lampu warna warni ..keren pokoknya...



stunning ! mau dilihat dari arah manapun..keren abisss




 
Sampai di Daratan Madura


Sampai di Bangkalan, kita ketemuan lagi dengan Om Ipik dan keluarga di rumahnya mbak Zul, dari situ kita ziarah ke makam mbah ibu (neneknya Iqbal dan Nabila)... Dari situ menuju makamnya Syeh Cholil.
  




Siapakah Syekh Cholil ? 

Tilik punya tilik .... Syekh Cholil memiliki hubungan yang kuat dengan tokoh KH Hasyim Ashari dan lahirnya pesantren Tebu Ireng. kok bisa? Berikut ini cerita mengenai Syekh Cholil  yang dikutip dari sini.

Berdasarkan hikayatnya, Kiai Cholil merupakan keturunan kesekian dari Sunan Gunung Jati. Dilahirkan pada 11 Jamadilakhir 1235 Hijrah/27 Januari 1820 Masehi di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur.

KH Muhammad Cholil berasal dari keluarga ulama. Pendidikan dasar agama diperolehnya langsung dari keluarga. Menjelang usia dewasa, beliau dikirim ke berbagai-bagai pondok pesantren.

Sekitar 1850-an, ketika usianya menjelang tiga puluh, Kiyai Muhammad Cholil belajar kepada Kiyai Muhammad Nur di Pondok-pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Dari Langitan beliau pindah ke Pondok-pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian beliau pindah ke Pondok-pesantren Keboncandi.

Selama belajar di pondok-pesantren ini beliau belajar pula kepada Kiyai Nur Hasan yang menetap di Sidogiri, 7 km dari Keboncandi. Kiyai Nur Hasan ini, sesungguhnya, masih mempunyai pertalian keluarga dengannya. 

Pada 1276 Hijrah/1859 Masehi, Kiyai Muhammad Cholil melanjutkan pelajarannya ke Mekah. Di Mekah Kiyai Muhammad Cholil al-Maduri bersahabat dengan Syeikh Nawawi al-Bantani.

Sewaktu berada di Mekah untuk kebutuhannya sehari-hari, Kiyai Muhammad Cholil bekerja mengambil upah sebagai penyalin risalah-risalah yang diperlukan oleh para pelajar. Diriwayatkan bahwa pada waktu itulah timbul ilham antara: Syeikh Nawawi al-Bantani, Kiyai Muhammad Cholil al-Maduri dan Syeikh Saleh as-Samarani (Semarang) menyusun kaedah penulisan huruf Pegon. Huruf Pegon ialah tulisan Arab yang digunakan untuk tulisan dalam bahasa Jawa, Madura dan Sunda. Huruf Pegon tidak ubahnya tulisan Melayu/Jawi yang digunakan untuk penulisan bahasa Melayu.

  
Oleh karena Kiyai Muhammad Cholil cukup lama belajar di beberapa pondok-pesantren di Jawa dan Mekah, maka sewaktu pulang dari Mekah, beliau terkenal sebagai ahli/pakar nahu, fikah, thariqat ilmu-ilmu lainnya.

Untuk mengembangkan pengetahuan keislaman yang telah diperolehnya, KH Muhammad Cholil selanjutnya mendirikan pondok-pesantren di Desa Cengkebuan, sekitar 1 km arah Barat Laut dari desa kelahirannya. Pondok-pesantren tersebut kemudian diserahkan pimpinannya kepada anak saudaranya sekaligus menantunya, yaitu Kiyai Muntaha yang menikah dengan anak KH Muhammad Cholil bernama Siti Khatimah.

Adapun beliau sendiri mendirikan pondok-pesantren yang lain di Kota Bangkalan, letaknya sebelah Barat kota tersebut dan tidak berapa jauh dari pondok-pesantrennya yang lama.
KH Muhammad Cholil al-Maduri adalah seorang ulama yang bertanggungjawab terhadap pertahanan, kekukuhan dan maju-mundurnya agama Islam dan bangsanya. Beliau sadar benar bahwa pada zamannya, bangsanya adalah dalam suasana terjajah oleh bangsa asing yang tidak seagama dengan yang dianutnya. Beliau dan keseluruhan suku bangsa Madura adalah 100% pemeluk agama Islam, sedangkan bangsa Belanda, bangsa yang menjajah itu memeluk agama Kristian. Sesuai dengan keadaan beliau sewaktu pulang dari Mekah telah berumur lanjut, tentunya beliau tidak melibatkan diri dalam medan fisik dan memberontak dengan senjata tetapi mengkaderkan pemuda di pondok pesantren yang diasaskannya. Beliau sendiri pernah ditahan oleh penjajah Belanda karena dituduh melindungi beberapa orang yang terlibat melawan Belanda di pondok pesantrennya.

Banyak tokoh ulama ataupun tokoh-tokoh lainnya yang terlibat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia ternyata pernah mendapat pendidikan dari beliau. Berikut ini beberapa murid beliau yang juga berperan terhadap sejarah perkembangan agama Islam dan bangsa Indonesia yaitu:
  • KH Hasyim Asy’ari (pendiri Pondok-pesantren Tebuireng, Jombang, dan pengasas Nahdhatul Ulama atau singkatannya NU);
  • KH Abdul Wahhab Hasbullah (pendiri Pondok-pesantren Tambakberas, Jombang);
  • KH Bisri Syansuri (pendiri Pondok-pesantren Denanyar);
  • KH Ma’shum (pendiri Pondok-pesantren Lasem, Rembang, adalah ayahanda KH Ali Ma’shum),
  • KH Bisri Mustofa (pendiri Pondok-pesantren Rembang); dan
  • KH As’ad Syamsul `Arifin (pengasuh Pondok-pesantren Asembagus, Situbondo).
  • dll
Kiyai Muhammad Khalil al-Maduri, wafat dalam usia yang lanjut, 106 tahun, pada 29 Ramadan 1341 Hijrah/14 Mei 1923 Masihi.

.....wah bertambah lagi dech ...satu pengetahuan mengenai pejuang tokoh keislaman....

Batik Madura

Pulang dari ziarah... Mampir dulu lah ya ke tempat yang jual Batik Madura....hehehe... Dipilih! Dipilih ! Dipilih !


Belanja dengan patokan waktu? Ya kemarin ituw lah mengingat... Jadwal udah mendesak...meski ternyataaaa...airasia-nya delay lagi sejam...euleuh... Tapi hari itu emang semua penerbangan delay... Gak tau kenapa...

Sby Trip | I love the blue of Indonesia

Sabtu, 10 Juli 2010

Setelah sarapan yang cukup mengenyangkan (...alhamdulillah) di rumah mbah Ibu, saatnya meneruskan perjalanan ...  nggak lupa dong taking picture for whole family..


 
Macet

Dari Jombang kita langsung menuju Malang, perjalanan semestinya singkat, tapi lagi-lagi kena macettt... rupanya ada perbaikan jembatan, untungnya aja view-nya bagus banget.. masya ALLAH..bener-bener bagus... jalannya membelah lembah dengan hutan yang cukup tebal dihiasi sungai besar ...


si kecil cici Muna sampe kelelahan ...


Mabuk


ealah...kejadian dech ...mas Arief mabuk (padahal selama ini nggak pernah ya ???) waduh !!! setelah Daffa yang mabuk di T3 Soetta terus nanti juga di Juanda Airport (kalo si Abang emang hobi mabuk kalau tegang karena mikirin sesuatu), Iqbal yang mabuk di sepanjang Jl Raya Porong ke arah Jombang, .... kok ya mas Arief dapet giliran...kayaknya masih kebayang sama tulang ikan lele yang semalem nyangkut ya Bang? .... mabuk ini nantinya disambung Nabila di Malang ... alhamdulillah yang lain sih masih pada tenang...

Coban Rondo


Perjalanan melalui Coban Rondo, jadi sayang kalo dilewatin... keren banget nich waterfall-nya, tinggi dan deras airnya, udah gitu akses dari jalan raya amat sangat mudah.... anak-anak pada maen aer sampai basah karena (pura-pura) jatuh hehehe....ditutup dengan makan jagung bakar...alhamdulillah..jagungnya enak dan manis...nggak seperti di Bromo, btw strawberry-nya juga nggak asem loh...
 
 




Maksi with Malang City view
 
Sudah waktunya makan siang, kita keluar dari lokasi air terjun tapi cari spot yang enak di pinggir hutan masih dekat situ, dengan view kota Malang ..wah keren .. nafsu banget makan-nya..gimana nggak... udah makan gratis (bekel dari mbah Ibu...aduh mbah....hanya ALLAH SWT yang bisa membalas kebaikan mbah)... udah kayak emak kita aja ngebekelin hehehehe...
maksi-nya juga "ditemani" bakso ala penjual bakso (nyaris) keliling yang lagi mangkal..nikmaaatttt...


 

sekali-kali begaye boleh dwonggg
 Agrowisata

Turun gunung menuju kota Batu, menuju Agro Wisata Kusuma di Batu Malang ... niatnya sich mau petik strawberry dan apel....ealahhhh kok ya abisss????? tinggal jeruk doang ??? emang sich kesorean..tapi khan kita udah jauh-jauh pergiiii :-(

well anyway, ya udah ..kita nggak jadi keliling city..tapi langsung menuju Malang tapiiiiiii belanja dulu dwonggg...

Macet lagi di Jl raya porong 

pulang again !!! lewat lokasi lumpur ...ampun dech maceeettttttttt
kok ya nggak selese-selese ya, pernah terpikir nggak sich kalau setiap orang yang struck disitu
pasti nyumpahin ? udah nyaris jadi kota mati ... gelap....

tiba-tiba di tengah kelelahan luar biasa.... terbukti pada jatuh tertidur.....mas Arief manggil mamanya bilang lapar..hahaha..kepanikan pun terjadi...alhamdulillah ..masih ada sisa nasi box dari mbah Ibu.. tapi dimanakah itu??? yah rupanya di mobil yang satunya... cerita yang seru sendiri untuk menemukan mobil Kijang di tengah kemacetan itu...

setelah ketemu... akhirnya krucils kecuali Reyhan pada Makan di dalam mobil ..hehehe.. yang beruntung yang lagi nulis nich... karena dapet "jatah" makan bareng Daffa.. yang 2 box lagi bagi-bagi antara Arief, Iqbal dan Faid.... Reyhan tidur dengan pulas, sementara Bang Qosim, Mpok Ija, Kak Nunki dan Bang Nunung belum kebagean....

Kita akhirnya makan malem di Wapo Surabaya, ditingkahi pelayan yang kurang ngasih pesanan (pake nyongot pula), tegoran ke kasir.. sampai dengan Bang Qosim yang marahhh... hehehe..belum pernah liat khan? saking lapernya kali yaaaa...

alhamdulillah sampe juga ke base camp, Om Ipik sekeluarga meanwhile setelah ambil tas melanjutkan ke Madura karena ada kondangan...well kita besok nyusul yaaaaa.... see u tomorrow... *diiringi Iqbal yang cemberut hihihi....

Saturday, July 10, 2010

Sby Trip | rumah Embah Ibu

Jumat/Sabtu, 9/10 Juli 2010

Wah ini beneran keliling beberapa kota kabupaten dalam waktu yang singkat..seperti icip-icip sample menu buat pesta hehehe...

Secara long trip gitu... Stop kontak pasti selalu jadi sasaran setiap sampai di satu titik kota yang settle.. Di resto, di rumah saudara, di tempat nginep, hahaha...

Semalem, Iqbal ketakutan gara-gara diputerin Bang Sani pelem syerem, akibatnya dia gak mau tidur di kamarnya.. Jadi-lah pindah ke kamar kita, Bang Rey ketika bangun hanya nemu Nabila pindah juga ke kamar si Abang Daffa, nah! Praktis Nabila pun nangis ketika tidak menemukan siapa-siapa... Hehehe pindah dech semua dalam satu kamar...plus Alfin, plus Tante Nurul, plus mama Bang Daffa plus papa-nya juga hahaha !!!

Bangun di rumah mbah Ibu seperti bangun di rumah nenek di kampung ... Hehehe... Kita bikin kerusuhan sampe adek-adeknya Bang Qosim menyingkir demi tamu-tamunya ini hihihi....

Belum lagi kita dijamu sama Rawon, pecel sayuran, plus lele goreng hehehe.. Si Bang Rey makannya ampe 2 piring melulu.. Hebbattt !!!

Seabis Ziarah (lagi hehe...) Ke makam mbah Kung-nya... Dan foto-foto ala jadul looks (pake di sephia dan BW mode on gitu)... Kita pamit untuk nerusin perjalanan menuju Malang.... Yukss lanjuttt ...

btw berikut hasil jepretan jadul-na...


iseng touch up ? belum nongol tuh idenya

V intageeeeee

dihiasi jam dinding-nya dwonggg pas bangettt

latar belakang..pesantren-nya

Alfin bengong liatin Ayah Qosim yang lagi mimpin doa

kayak foto jadul hihihi...

penunjuk waktu Shalat... nggak perlu batere....hanya perlu matahari ...

sekali lagi di depan rumah mbah Ibu

Sby Trip | an endless journey

| Surabaya, Bromo/Probolinggo, Jombang, Madura, 7-11 Juli 2010 Jumat, 9 Juli 2010 |

Looonggg way to go itu tema hari ini... Gak sampe-sampe tujuan ... Sampe capek :-(


12.45 RM Barokah, ayam pedes, ikan pedes, semua pedes

Makan siang di rumah makan di daerah Bangil..RM Barokah, secara rombongan Kijang udah duluan sampe, jadilah kita pesen ayam bakar yaannng...ternyata udah dibumbui cabe... Ditaruh di atas cobek bercabe... Udah kayak ayam penyet..pesen gurame..juga berpenyet. Ealahh... Mana tahan... Kalo dirikyu mah sukaaa, nah krucils ini bagaimana? Yang kesian Mama Nungki yang terpaksa menunggu ikan gurame digoreng tanpa cobek tiba..


17.00 Rumah Cak Wahab di Jombang

Beres makan dan shalat, yang Kijang cabut duluan untuk dropping mobil di bengkel dekat rumah kakaknya Bang Qosim... nge-booking bengkel hehe..

Sehabis drop mobil, kita lanjut ziarah ke makam Guru Bangsa, Gus Dur !


18.00 Ponpes Tebu Ireng

Wadoh !!! Bermakna banget HUT kali ini, dihiasi kunjungan ke kuburan.. Contrary banget ya... Jadi inget mati.. Hehe..

Masuk ke Ponpes, ikut shalat Magrib berjamaah bareng, what a coincidence !!! Kebetulan ada santri santri baru juga, jadinya ada tausiah buat mereka, kita sendiri abis magrib langsung ke makam Gus Dur, yang ternyata sering juga dikunjungi etnis Chinese..

Yang lucu di lokasi kuburan ada spanduk bertuliskan "dilarang melemparkan uang" hehehe.. Rupanya sering begitu .. Sehari katanya bisa sampe terkumpul sedus indomie hehe..

Dari makam, perjalanan belum selesai, lanjut ke rumah embah Ibu sekitar 1 jam-an lagi untuk bermalam di sana ...lanjuttt